Minggu, 29 September 2013

Konseling Behavioral

A.    Latar Belakang Teori  Konseling Behavioral  
Pendekatan konseling behavioral ini berhubungan dengan skinner, Pavlov yang mana pada penemuan itu selalu mengembangkan yang namanya stimulus dan respon. Pada tahun 1927 penerjemahan karya Pavlov kedalam bahasa Inggris mendorong pengambilalihan pendekatan behavioristik dalam mempelajari psikologi amerika serikat. Salah satu study yang paling penting adalah hal ini adalah yang dilakukan oleh Wathson dan Ray yang menggunakan seorang anak kecil membuktikan bahwa rasa takut itu dipelajari.
B.     Konsep Utama Konseling Behavioral
o  Pandangan Tentang Manusia
1.    Respon tidak selalu ditimbulkan oleh stimulus, akan tetapi lebih kuat oleh penguatan (reinforcement)
2.    Lebih menenkankan pada studi objek individual dibandingkan generalisasi kecenderungan kelompok
3.    Menekankan pada penciptaan situasi tertentu terhadap terbentukknya perilaku dibandingkan motivasi dalam diri
ü Ciri-Ciri Pendekatan Behavioral
o   Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
o   Perubahan-perubahan  khusus  terhadap  lingkungan  individual  dapat membantu  dalam  merubah  perilaku-perilaku  yang  relevan;  prosedur-prosedur  konseling  berusaha  membawa  perubahan-perubahan  yang relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
o   Prinsip-prinsip  belajar  sosial,  seperti misalnya  “reinforcement”  dan  “social modeling”,  dapat  digunakan  untuk  mengembangkan  prosedur-prosedur konseling.
o   Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus konseli diluar dari layanan  konseling yang diberikan.
o   Prosedur-prosedur  konseling  tidak  statik,  tetap,  atau  ditentukan sebelumnya,  tetapi  dapat  secara  khusus  didisain  untuk  membantu  konseli dalam memecahkan masalah khusus.
ü Asumsi Perilaku Bermasalah konseling behavioral
Konsleing behavioral digunakan untuk membantu masalah konseli yang terkait dengan perilaku-perilaku maladaptif. perilaku yang bermasalah dalam pandangan behaviorist dapat dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.  Sedangkan menurut Feist & Feist (2008: 398) menyatakan bahwa perilaku yang tidak tepat meliputi:
1.    Perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai denga situasi yang dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya.
2.    Perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang         tidak diinginkan terkait dengan hukuman.
3.    Perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli yang tidak diinginkan.
4.    Pengetahuan akan kelemahan diri yang termanifestasikan dalam respon-respon-respon menipu diri.
C.    Tujuan Konseling Behavioral
Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :
1.      Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
2.      Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
3.      Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
4.      Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
5.      Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
6.      Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor.
D.    Proses Konseling Behavioral
Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Deskripsi langkah-langkah konseling sebagai berikut :
Ø Assesment, langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
Ø Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a.    Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien
b.    Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling
c.    Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien.
Ø Penerapan teknik konseling, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.
Ø Evaluasi  dan Pengakhiran,  Evaluasi konseling behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Tingkah laku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan. Dalam hal ini konselor dan konseli mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta menentukan lamanya intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku yang diharapkan menetap.
E.     Teknik Konseling Behavioral
Adapun Teknik-teknik dalam Konseling Behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk pola tingkah laku) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru akan dapat dibentuk.
1.      Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna diantaranya un tuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkap afeksi dan respon positif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konsealor dan diskusi-diskusi kelompok
2.      Desensitisasi Sistematis
Desensititasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks 
3.      Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.


F.     Sikap Konselor dalam Proses Konseling Behavioral
Konselor dalam pendekatan konseling behavioral adalah aktif dan direktif, dan berfungsi sebagai konsultan dan problem solvers. Konselor behavioral berperan sebagai guru, pengarah, dan ahli yang membantu konseli dalam mendiagnosis dan melakukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah dan tujuan yang diharapkan, sehingga mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive. Konselor harus dapat menjadi model bagi konseli, karena salah satu hal mendasar dalam pendekatan ini adalah bagaimana konseli belajar perilaku baru dengan imitasi. Yang harus diperhatikan oleh konselor dalam proses konseling behavior adalah:
1.    Mengaplikasikan  prinsip  dari  mempelajari  manusia  untuk  memberi fasilitas  pada  penggantian  perilaku  maladaptif  dengan  perilaku  yang  lebih adaptif.
2.    Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan  seseorang dari  perilaku yang  mengganggu  kehidupan  yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki  sepanjang sasaran itu  sesuai  dengan  kebaikan masyarakat secara umum.
G.    Kelebihan Dan Kekurangan Behavioral
Kelebihan konseling Behavioral adalah :
  • Dengan memfokuskan pada perilaku khusus bahwa klien dapat berubah, konselor dapat membantu klien kea rah pengertian yang lebih baik terhadap apa yang harus dilakukan sebagai bagian dari proses konseling.
  • Dengan menitikberatkan pada tingkah laku khusus, memudahkan dalam menentukan kriteria keberhasilan proses konseling
  • Memberikan peluang pada konselor untuk dapat menggunakan berbagai teknik khusus guna menghasilkan perubahan perilaku.
Kekurangan Konseling Behavioral adalah :
·           Kurangnya kesempatan bagi klien untuk terlibat kreatif dengan keseluruhan penemuan diri atau aktualisasi diri
·           Kemungkinan terjadi bahwa klien mengalami “depersonalized” dalam interaksinya dengan konselor.
·           Keseluruhan proses mungkin tidak dapat digunakan bagi klien yang memiliki permasalahan yang tidak dapat dikaitkan dengan tingkah laku yang jelas.
·           Bagi klien yang berpotensi cukup tinggi dan sedang mencari arti dan tujuan hidup mereka, tidak dapat berharap banyak dari konseling behavioral.

















Daftar Pustaka
Corey, Geral. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama





Konseling Ego


KONSELING EGO
A.    Konsep Dasar dan Sejarah Konseling Ego
Konseling ego memiliki ciri khas yang lebih menekankan pada fungsi ego. Kegiatan konseling yang dilakukan pada umumnya bertujuan untuk memperkuat ego strength, yang berarti melatih kekuatan ego klien. Konseling ego dipopulerkan oleh Erikson. Seringkali orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki ego yang lemah. Misalnya, orang yang rendah diri, dan tidak bisa mengambil keputusan secara tepat dikarenakan ia tidak mampu memfungsikan egonya secara penuh, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meraih keinginannya. Perbedaan ego menurut Freud dengan ego menurut Erikson adalah: menurut Freud ego tumbuh dari id, sedangkan menurut Erikson ego tumbuh sendiri yang menjadi kepribadian seseorang.
Erik Erikson adalah seorang psikolog perkembangan Denmark-Jerman-Amerika dan psikoanalis terkenal karena teorinya tentang pembangunan sosial manusia. Perkembangan identitas tampaknya telah menjadi salah satu keprihatinan Erikson terbesar dalam hidup sendiri maupun teorinya. Selama masa kanak-kanak dan dewasa awal ia dikenal sebagai Erik Homburger dan orang tuanya terus rincian kelahirannya rahasia. Dia adalah seorang, jangkung pirang, bermata biru anak yang dibesarkan dalam agama Yahudi. Erikson adalah seorang mahasiswa dan guru seni. Setelah lulus dari Erikson Institute di Wina psikoanalitis 1933.        Ia berhijrah bersama istrinya, pertama ke Denmark lalu ke Amerika Serikat, di mana ia menjadi psikoanalis anak pertama di Boston. Erikson memegang posisi di Massachusetts General Hospital. Pada tahun 1936, Erikson menerima posisi di Yale University, bekerja di Institute of Human Relations dan mengajar di Sekolah Kedokteran. Setelah setahun mengamati anak-anak Sioux di Dakota Selatan, ia bergabung dengan staf pengajar University of California di Berkeley, berafiliasi dengan Institut Kesejahteraan Anak, dan membuka praktik.
Setelah penerbitan buku yang terkenal Erikson, Anak dan Masyarakat, pada 1950, ia meninggalkan University of California ketika profesor ada diminta untuk tanda-tangani sumpah loyalitas. Pada tahun 1960, Erikson kembali ke Harvard sebagai profesor pembangunan manusia dan tetap di universitas hingga pensiun pada tahun 1970. Erikson juga dikreditkan dengan menjadi salah satu pencetus psikologi Ego, yang menekankan peran ego sebagai lebih dari seorang hamba id. 
Menurut Erikson, lingkungan di mana anak hidup sangat penting untuk memberikan pertumbuhan, penyesuaian, sumber kesadaran diri dan identitas. Bukunya 1969 Gandhi Kebenaran, yang lebih terfokus pada teori yang diterapkan untuk tahap selanjutnya dalam siklus hidup, memenangkan hadiah Pulitzer Erikson dan US National Book Award. Pada tahun 1973 National Endowment untuk dipilih Humaniora Erikson untuk Kuliah Jefferson, kehormatan pemerintah federal AS untuk pencapaian tertinggi di humaniora. Erikson kuliah berjudul "Dimensi dari Identity Baru. Erik Erikson meninggal pada 12 Mei 1994. 
Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego ini dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Ego bukan menjadi budak lagi, namun dapat mengatur id, superego dan dibentuk oleh konteks cultural dan historik. Berikut adalah ego yang sempurna menurut Erikson :
1.    Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan fakta dan data hasil interaksi dengan lingkungan.
2.    Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang   menggabungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan pronsip realita dari Freud.
3.    Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat   hubungan untuk mencapai tujuan bersama.
B.      Teori Kepribadian Erikson
Menurut teori ini manusia tidaklah didorong oleh energi dari dalam, melainkan untuk merespon rangsangan yang berbeda-beda, misalnya indvidu dalam kehidupannya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Menurut Erikson egolah yang mengembangkan segala sesuatunya. Misalnya kemampuan individu, keadaan dirinya, hubungan sosialnya dan penyaluran minatnya. Seorang individu haruslah memiliki ego yang sehat dan kuat guna merespon kondisi lingkungan sebagai salah satu proses beradaptasi. Erikson lebih menekankan pembahasan kepada pembahasan psikososial. Dalam teorinya, Erikson merumuskan ciri-ciri perkembangan kepribadian menjadi delapan tahap, yaitu:
1.    Masa bayi awal (0-1 tahun)
2.    Masa bayi akhir (1-3 tahun)
3.    Masa kanak-kanak awal (3-5 tahun)
4.    Masa kanak-kanak pertengahan (6-11 tahun)
5.    Masa puber dan remaja (12-20 tahun)
6.    Masa dewasa awal (21-30 tahun)
7.    Masa dewasa pertengahan (30-55 tahun)
8.    Masa dewasa akhir (55 tahun ke atas)
Proses Perkembangan Kepribadian, Erikson membagi atas empat tahapan sebagai berikut:
1.    Ego berkembang atas kekuatan dirinya sendiri. 
2.    Pertumbuhan ego yang normal adalah dengan berkembangnya keterampilan anak dalam berkomunikasi. Karena melalui komunikasi individu dapat mengukur dan menilai tingkah lakunya berdasarkan reaksi dari orang lain. 
3.    Perkembangan bahasa juga menambah keterampilan individu untuk membedakan suatu objek dalam lingkungan dengan bahasa individu mampu berkomunikasi dengan orang lain. 
4.    Kepribadian individu berkembang terus menerus melalui proses hubungan dirinya dengan dunia luar atau lingkungannya (adanya keterkaitan antara hubungan yang satu dengan yang lain).



C.  Fungsi Ego

Fungsi ego dalam diri individu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a.    Fungsi dorongan ekonomis, fungsi ego ini menyalurkan dengan cara mewujudkan dalam bentuk tingkah laku secara baik yaitu yang baik dan dapat diterima lingkungan, berguna dan menguntungkan baik bagi diri individu sendiri maupun orang lain di lingkungannya.
b.    Fungsi kognitif,  berfungsinya ego pada diri individu untuk menerima rangsangan dari luar kemudian menyimpannya dan setelah itu dapat mempergunakannya unuk keperluan coping behavior. Dalam hal ini individu mempergunakan kemampuan kognitifnya dengan disertai oleh pertimbangan-pertimbangan akal dan menalar.
c.    Fungsi pengawasan, disebut juga dengan fungsi kontrol, maksudnya tinglah laku yang dimunculkan individu merupakan tingkah laku yang berpola dan sesuai dengan aturan. Secara khusus fungsi ego ini mengontrol perasaan dan emosi terhadap tingkah laku yang dimunculkan.
D.  Tujuan Konseling Ego
Adapun tujuan konseling menurut Erikson adalah memfungsikan ego klien secara penuh. Tujuan lainnya adalah melakukan perubahan-perubahan pada diri klien sehingga terbentuk coping behavior yang dikehendaki dan dapat terbina agar ego klien itu menjadi lebih kuat. Ego yang baik adalah ego yang kuat, yaitu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan dimana dia berada.
E.  Langkah-langkah Konseling Ego
Adapun langkah-langkah dalan penyelenggaraan konseling ego adalah:
1.    Membantu klien mengkaji perasaan-perasaannya berkenaan dengan kehidupan, feeling terhadap peranannya, penampilan dan hal lain yang terkait dengan tugas-tugas kehidupannya.
2.    Klien diproyeksikan dirinya terhadap masa depan. Dalam hal ini konselor mendiskusikan tujuan hidup masa depan klien, sekaligus potensi-potensi yang dimilikinya. Konselor membawa klien agar mampu melihat hubunagn yang signifikan antara masa depan dan tujuan hidup klien dengan kondisinya di masa sekarang.
3.    Konselor mendiskusikan bersama klien hambatan-hambatan yang ditemuinya untuk mencapai tujuan masa depan.
4.    Konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya. Selanjutnya konselor berusaha agar klien melihat hubungan antara perasaan perasaannya tadi dengan tingkah lakunya.
5.    Konselor membantu klien menemukan seperangkat hasrat, kemauan dan semangat yang lebih baik dan mantap dalam kaitannya dengan hubungan sosial. Kalau memungkinkan konselor melatihkan tingkah laku yang baru.

F.   Aturan  dalam Proses Konseling Ego
Ada  Beberapa aturan dalam konseling ego yaitu: 
1.    Proses konseling harus bertitik tolak dari proses kesadaran. 
2.    Proses konseling bertitik tolak dari asas kekinian. 
3.    Proses konseling lebih ditekankan pada pembahasan secara rasional. 
4.    Konselor hendaknya menciptakan suasana hangat dan spontan, baik dalam penerimaan klien maupun dalam proses konseling. 
5.    Konseling harus dilakukan secara profesional. 
6.    Proses konseling hendaklah tidak berusaha mengorganisir keseluruhan kepribadian individu, melainkan hanya pada pola-pola tingkah laku salah suai saja. 

G. Teknik- Teknik Konseling Ego

Teknik yang dipakai tidak kaku, melainkan luwes sesuai dengan hak klien untuk menjadi dirinya sendiri, meliputi:
1.    Pengawalan: membina hubungan antara klien dan konselor.
2.        Pengontrolan proses, meliputi:
·      Memusatkan kegiatan pada tugas membangun ego strength klien
·      Mengontrol keseimbangan antara ekspresi klien yang bersifat kognitif maupun konatif (emosi) tetapi proses konseling tetap menekankan dimensi kognitif.
·      Mengontrol ambiguitas dalam proses konseling
3.    Transferensi (trans),  dalam konseling ego  transferensi dimaksudkan sebagai perasaan klien yang timbul terhadap konselor.
4.    Counter transference (konstrans), upaya konselor untuk mencegah munculnya perasaan terhadap klien dan mempengaruhi proses konseling.
5.      Diagnosis dan interpretasi, konselor bertanggungjawab merumuskan dan mendiagnosis masalah, serta memberikan kesempatan kepada klien untuk memahami masalah-masalahnya itu.
H.      Masalah yang Menjadi Perhatian Konseling Ego
1.    Apabila individu tertekan oleh keadaan yang menimpanya dan ego kehilangan kontrol, maka kontrol terhadap tingkah laku beralih dari kesadaran ke ketidaksadaran --- kontrol beralih dari ego ke id.
2.    Tingkah Laku Salah Suai (TLSS), Munculnya tingkah laku salah suai pada diri seseorang disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: 
·      Individu di masa lalunya kehilangan kemampuan atau tidak diperkenankan merespon rangsangan dari luar secara tepat sehingga pada saat sekarang menjadi salah suai dalam bertingkah. 
·      Apabila pola coping yang sudah terbina pada dirinya sekarang tidak sesuai lagi dengan situasi sekarang. 
·      Fungsi ego tidak berjalan dengan baik, saat bertingkah laku salah satu fungsi ego atau ketiga-tiganya tidak berfungsi dengan baik, misalnya individu tersebut tidak mempertimbangkan untung ruginya dalam bertingkah laku, kurang memanfaatkan pikiran atau kurang mengontrol perasaan, sehingga menjadi sorotan dari lingkungan dan tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi individu. 

3.    Rusaknya fungsi ego
Misalnya individu tersebut tidak mempertimbangkan untung ruginya dalam bertingkah laku tertentu, kurang memanfaatkan pikiran atau kurang mengontrol perasaanya sehingga menjadi sorotan orang disekitarnya dan tentu saja menimbulkan ketidakenakan bagi yang bersangkutan.
Sumber:
Http://konseling ego/konseling-ego-dipopulerkan-oleh-erikson.html, diakses 31 Maret 2013