Kamis, 03 Oktober 2013

Konseling Rational Emotif Terapi


A.  Konsep Dasar Terapi Rasional Emotif (TRE)
TRE adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk  berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri. TRE sangat didaktis, sangat direktif, dan memiliki kepedulian yang seimbang antara pikiran dan perasaan. TRE berdasarkan pada asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat yang timbal balik.
Adapun konsep dasar  TRE yang di kembangkan oleh Albert  Ellis adalah sebagai berikut:
1.    Pemikiran manusia adalah penyebab dasar dari gangguan emosional. Reaksi emosional yang sehat maupun tidak sehat, bersumber dari pemikiran itu.
2.    Manusia mempunyai potensi pemikiran rasional dan irasional. Dengan pemikiran rasional dan inteleknya manusia dapat terbebas dari gangguan  emosional.
3.    Pemikiran irasional bersumber pada disposisi lewat pengalaman masa kecil dan pengaruh budaya.
4.     Pemikiran dan emosi tidak dapat di pisahkan
5.     Berfikir logis dan tidak logis dilakukan dengan simbl-simbol bahasa.
6.    Pada diri manusia sering terjadi self-verbalization. Yaitu mengatakan sesuatu yang terus menerus pada dirinya.
7.    Pemikiran tak logis-irasional dapat di kembalikan kepada pemikiran logis dengan reorganisasi persepsi. Pemikiran tak logis itu merusak dan merendahkan diri melalui emosionalnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwasanya TRE adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk  berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri.
B.  TRE dan Teori Kepribadian
Pandangan teoritis tentang ciri-ciri tertentu kepribadian dan tingkah laku berikut gangguan-ganguannya memisahkan terapi rasional emotif dari teori yang melandasi sebagian besar pendekatan terapi lainnya. Rangkuman pandangan TRE Pandangan terapi emotif tentang manusia adalah sebagai berikut:  
Ø Neorosis, yang didefinisikan sebagai “berfikir” dan bertingkah laku irasional, adalah suatu keadaan alami yang pada taraf tertentu menimpa kita semua.
Ø Psikopatologi padamulanya dipelajari dan diperhebat oleh timbunan keyakinan-keyakinan irasional yang berasal dari orang-orang berpengaruh selama masa kanak-kanak.
Ø Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia, jika berpikir buruk tentang suatu,maka kitapun akan merasakan suatu hal yang buru. Ellis mengatakan bahwa gangguan emosi pada manusia pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti keliru,tidak logis dan tidak bisa disahihkan,yang diyakini secara degmatis dan tanpa kerik terhadapnya,orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai sampai ia sendiri kalah.
C.  Teori A-B-C tentang Kepribadian
Teori A-B-C tentang kepribadian sangatlah penting bagi teori dan praktek terapi rasional emotif.  Yang dimaksud teori  A-B-C adalah:
a.    Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
b.    Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
c.     Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Contoh: jika seorang mengalami depresi sesudah perceraian, bukan perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi depresif,melainkan keyainan orang itu  tentang perceraian sebagai kegagalan,penolakan atau kehilangan teman hidup.
D.  Karakteristik Konseling TRE
Ø Hakikat Konseling
1.    Prosedur ilmiah, didalam hubungan konseling terapi rasional emotif ini dilakukan dalam proses formal, berstruktur, dan berencana. Prosedur ini terutama sekali diterapkan untuk menantang falsafah yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan anggapan irasional yang tidak dapat dibuktikan. tepatnya pada proses kepribadian komponen.
2.    Proses edukatif-redukatif, pada dasarnya rasional-emotif terapi menekankan penataan kembali kognisi (pandangan). Konseling dipandang secara luas sebagai upaya mendidik atau menstruktur kembali emosi dan intelektual yang selama ini dianggap kurang logis.
3.    Rational-emotif terapi menekankan proses insight, didalam proses penyembuhan, perbaikan ataupun perubahan maka harus dilalui suatu tahapan.
4.     Aktif-directif, artinya dalam hubungan konseling, konselor lebih aktif dalam membantu mengarahklan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya
5.    Kognitif-rasional, artinya hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari konseli dan berintikan pada pemecahan masalah yang rasional.
Ø Konselor
Seperti kita ketahui, kegiatan utama konseling rational-emotif terapi adalah membebaskan konseli dari ide-ide dan pemikiran-pemikiran yang tidak logis dalam dirinya. Hal ini berarti dibantu dengan jalan melatih dan mengajarnya untuk menginternalisasi nilai-nilai dan pandangan hidup rasional.adapun peran Konselor menurut Akhmad Sudrajat (2012) adalah:
1.    Konselor lebih edukatif-direktif kepada konseli.
2.     menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir konseli, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional konseli.
3.    Mendorong konseli menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya
4.     Menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.
Ø  Konseli
Peran konseli dalam terapi terapi hampir sama dengan seorang “siswa”. Proses konseling dapat dipandang sebagai proses “re-edukatif” yang mana klien belajar cara mengaplikasikan pemikiran logis untuk memecahkan masalahnya. Pengalaman yang harus dimiliki klien ialah pengalaman masa kini dan di sini (here dan now experiences) dan kemampuan klien untuk mengubah pola berpikir dan emosinya yang keliru. Adapun pengalaman yang sentral adalah bagaiman ia menemukan kesadaran diri dan pemahaman (insight).

E.  Tujuan Konseling TRE
Ø Tujuan Umum
1.    Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan dan pandangan-pandangan yang irasional dan ilogis menjadi rasional dan logis agar konseli dapat mengembangkan dirinya, meningkatkan aktualisasinya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan efektif yang positif.
2.     Menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri sendiri, seperti: rasa benci, rasa takut, bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, was-was, dan marah sebagai konsekwensi keyakinan yang keliru dengan jalan mengajar dan melatih konseli untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan, serta nilai-nilai kemampuan diri sendiri.

Ø Tujuan Khusus
1.     Self-interest atau social-interest, yaitu memberikan kemungkinan kepada konseli untuk mereorganisasikan persepsinya sendiri terhadap dirinya sehingga menumbuhkan diri sekaligus minat sosial individu.
2.     Self-direction, yaitu mendorong klien untuk mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti bahwa konseli harus menghadapi kenyataan-kenyataan hidupnya dengan tanggung jawab sendiri bukan bergantung atau minta bantuan orang lain.
3.    Tolerance, tujuannya yaitu mendorong dan membangkitkan rasa toleransi konseli terhadap orang lain, meskipun ia bersalah. Menghargai orang lain sangat diperlukan karena tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.
4.    Acceptance of uncertaintly, yaitu memberikan pemahaman yang rasional kepada konseli untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara logis dan tidak emosional.
5.    Flexible, yaitu mendorong konseli agar luwes dalam bertindak secara intelektual, terbuka terhadap suatu masalah sehingga dapat diperoleh cara-cara pemecahannya yang mendatangkan kepuasan kepada klien sendiri.
6.    Commitment, yaitu membangkitkan sikap objektivitas dan komitmen klien untuk menjaga keseimbangan dalam lingkungannya.
7.    Scientific thinking, yaitu berfikir rasional dan objektif, bukan hanya terhadap orang lain melainkan juga terhadap dirinya sendiri.
8.    Risk-thinking, yaitu mendorong dan membangkitkan sikap keberanian dalam diri sendiri (konseli) untuk mengubah nasibnya melalui kehidupan yang nyata, meskipun belum tentu berhasil.
9.    Self-acceptance, penerimaan diri terhadap kemampuan dan keyakinan diri sendiri dengan rasa gembira dan senang secara eksistensial adalah sikap positif dan merupakan sasaran bagi konseling rasional terapi pula.
10.    Mekanisme penggubahan, konselor harus menciptakan suasana yang hangat dan penuh pengertian, dan yang paling penting adalah menumbuhkan pengertian konseli  bahwa mereka harus berpikir secara rasional intelektual menurut dirinya sendiri.
F.   Tahap-Tahap Konseling TRE
 Tahap-tahap konseling RET adalah sebagai berikut:
1.    Proses untuk menunjukkan kepada konseli  bahwa dirinya tidak logis, membantu mereka memahami bagaimana dan mengapa menjadi demikian, dan menunjukkan hubungan gangguan  yang irasional itu tidak dengan kebahagiaan dan gangguan emosional yang di alami.
2.    Membantu Konseli meyakini bahwa berfikir dapat ditentang dan diubah. Kesediaan konseli untuk di eksplorasi secara logis terhadap gagasan yang dialami oleh konseli  dan konselor mengarahkan pada konseli untuk melakukan disputing terhadap keyakinan konseli yang irasional
3.    Membantu konseli lebih mendebatkan (disputing) gangguan yang tidak tepat atau tidak rasional yang dipertahankan selama ini menuju berfikir yang lebih rasional.
G. Teknik Konseling TRE
Adapun teknik konseling TRE secara umum adalah:
a.    Teknik emotif-eksperiensial/evokatif, teknik ini dipakai untuk mengurangi atau menghilangkan gangguan-gangguan emosional atau perasaan yang merusak diri sendiri  yakni:
1.    Teknik Teknik assertive training, yaitu teknik yang dipakai untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien agar secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilaku tertentu yang diinginkan.
2.    Teknik sosiodrama, yaitu teknik yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan klien (terutama perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan sehingga klien bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulis maupun melalui gerakan-gerakan dramatis. Teknik ini dilakukan untuk melatih perilaku verbal dan non verbal yang diharapkan dari siswa. Dengan teknik ini diperlukan seorang konselor yang ahli di bidang bahasa.
3.    Teknik self-modeling, yaitu teknik yang digunakan dengan meminta klien berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Dalam teknik modeling ini klien diminta terus-menerus menghindarkan dirinya dari perilaku negatif.
4.     Teknik imitasi, yaitu teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus model perilaku tertentu dengan maksud mengkonter perilakunya sendiri yang negatif.
b.   Teknik kognitif
1.    Pekerjaan rumah, teknik ini merupakan prasyarat baagi konseling selanjutnya. Dalam teknik ini konseli  diberi tugas-tugas rumah untuk berlatih membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menentukan pola perilaku yang diharapkan. Mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Adapun pelaksanaanya harus dilaporkan oleh konseli kepada konselor pada sesi berikutnya. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, percaya pada diri sendiri, kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri dan mengelola diri.
2.     Teknik bibliotherapy,  teknik ini digunakan untuk membongkar akar-akar keyakinan yang irasional dan ilogis dalam diri konseli serta melatih konseli berfikir rasional dan logis dengan mempelajari bahan-bahan yang dipilih dan ditentukan oleh konselor. Teknik ini dilakukan dengan menugaskan konseli ke perpustakaan atau mempelajari bahan bacaan yang tersedia di rumah.
3.    Teknik diskusi, teknik ini hampir sama dengan teknik di atas namun dilakukan dalam suatu kelompok diskusi. Melalui teknik ini konseli  dapat mempelajari pengalaman-pengalaman orang lain serta dapat menimba berbagai informasi yang dapat mempengaruhi dan mengubah keyakinan serta cara berfikir yang irasional dan tidak obyektif.
4.     Teknik simulasi, teknik ini digunakan untuk memberi kemungkinan kepada klien mempraktekan perilaku-perilaku tertentu melalui kondisi simulatif yang mendekati kenyataan.
5.    Teknik gaming, teknik ini digunakan untuk melatih konseli menempatkan pada peran tertentu.

Referensi:
Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama
Http:// Teknik Konseling Rational Emotiv Terapi _ komunitasdorohoncu.html diakses 14 April 2013
http://www.akhmadsudrajat.com. Diakses 14 April 2013


Senin, 30 September 2013

Konseling Gestalt

A.    Latar Belakang Teori  Konseling Gestalt
Penemu psikoterapi Gestalt adalah Frederick (Fritz) Perls dan mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan Gestalt berfokus pada masa kini dan itu di butuhkan kesadaran saat itu juga. Kesadaran ditandai oleh kontak, penginderaan, dan gairah. Kontak dapat terjadi tanpa kesadaran, namun kesadaran tidak dapat dipisahkan dari kontak.
Menurut Geralt Corey dalam bukunya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi) mengatakan bahwa terapi Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi yang mengharuskan individu menemukan jalannya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan.
B.     Konsep Utama Konseling Gestalt
ü Pandangan Tentang Manusia
Konsep dasar pendekatan Gestalt adalah Kesadaran, dan sasaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut buku M.A Subandi (psikoterapi, hal. 96) kesadaran meliputi:
1.    Kesadaran akan efektif apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh individu
2.   Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3.   Kesadaran itu selalu ada di sini-dan-saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil terjadi.
Menurut Geralt Corey, dalam terapi Gestalt terdapat juga konsep tentang urusan yang tak terselesaikan, yaitu mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, sakit hati, kecemasan rasa diabaikan dan sebagainya. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan dan fantasi tertentu. Karena tidak terungkap dalam kesadaran, perasaan itu tetap tinggal dan dibawa kepada kehidupan sekarang yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain.
C.    Ciri-Ciri Pendekatan Gestalt

ü Asumsi perilaku bermasalah Konseli
Asusmsi perilaku bermasalah pada konseling gestalt karena terjadinya pertentangan antara kekuatan “top dog” dan “under dog”. Top dog adalah posisi kuat yang menuntut, mangancam sedangkan under dog adalah keadaan membela diri, tidak berdaya dan pasif. Individu bermasalah karena ketidakmampuan seseorang dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya karena disebabkan mengalami kesenjangan antara masa sekarang dan masa yang akan datang.
Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi :
  • Kepribadian kaku (rigid)
  • Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
  • Menolak berhubungan dengan lingkungan
  • Memeliharan unfinished bussiness
  • Menolak kebutuhan diri sendiri
  • Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih”.
D.    Tujuan Konseling Gestalt
Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut.
·      Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas.
·      Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya
·      Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself)
Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.
E.     Proses Konseling Gestalt
Proses konseling Gestalt dapat ditinjau dari fase-fase berikut:
·      Fase pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.
·      Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu : Membangkitkan motivasi klien,Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.
·      Fase ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor.
·      Fase keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.
F.     Teknik Konseling Gestalt
Teknik-teknik yang biasanya dipakai dalam Konseling Gestalt  yaitu:
·      Permainan Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan yaitu, kecenderungan top dog (adil, menuntut, dan berlaku sebagai majikan) dan under dog (korban, bersikap tidak berdaya, membela diri, dan tak berkuasa). Disini ada permainan kursi kosong, yaitu klien diharapkan bermain dialog dengan memerankan top dog maupun under dog sehingga klien dapat merasakan keduanya dan dapat melihat sudut pandang dari keduanya.
·      Teknik Pembalikan
Teori yang melandasi teknik pembalikan adalah teori bahwa klien terjun ke dalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Gejala-gejala dan tingkah laku sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasari. Jadi konselor bisa meminta klien memainkan peran yang bertentangan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya atau pembalikan dari kepribadiannya.
·      Bermain Proyeksi
Memantulkan pada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.
·      Tetap dengan Perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia sangat ingin menghindarinya. Terapi mendesak klien untuk tetap atau  menahan perasaan yang ia ingin hindari itu.



G.    Sikap Konselor dalam Proses Konseling Gestalt
Sikap Konselor dalam Proses konseling Gestalt yaitu:
1.      Memfokuskan pada perasaan klien, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan terhadap kesadaran.
2.      Tugas terapis adalah menantang klien sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan berhubungan dengan pesan-pesan tubuh mereka.
3.      Menaruh perhatian pada bahasa tubuh klien, sebagai petunujk non verbal.
4.      Secara halus berkonfrontasi dengan klien guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan akibat dari bahasa mereka.
H.    Kelebihan Dan Kekurangan Konseling Gestalt
Kelebihan dari konseling gestalt adalah:
§  menangani masa lampau dengan membawa aspek-aspek masa lampau yang relevan ke saat sekarang.
§  Terapi Gestalt memberikan perhatian terhadap pesan-pesan nonverbal dan pesan-pesan tubuh.
§  Terapi Gestalt menolakk mengakui ketidak berdayaan sebagai alasan untuk tidak berubah.
§  Terapi Gestalt meletakkan penekanan pada klien untuk menemukan makna dan penafsiran-penafsiran sendiri.
§  Terapi Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan langsung menghindari intelektualisasi abstrak tentang masalah klien.
Kelebihan dari konseling gestalt adalah:
§  Terapi Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh
§  Terapi Gestalt cenderung antiintelektual dalam arti kurang memperhitungkan faktor-faktor kognitif.
§  Terapi Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab kita kepada orang lain.
§  Teradapat bahaya yang nyata bahwa terapis yang menguasai teknik-teknik Gestalt akan menggunakannya secara mekanis sehingga terapis sebagai pribadi tetap tersembunyi.
§  Para klien sering bereaksi negative terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa dianggap tolol. Sudah sepantasnya terapis berpijak pada kerangaka yang layak agar tidak tampak hanya sebagai muslihat-muslihat.















Daftar Pustaka
Corey, Geral. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama